Senin, 09 Maret 2015

One Year In Three Hours And Thirty Six Minutes

YOYOYYOYOYOYOYOYO !!!
Apa kabar nih ?
Apik ? Yo iyo lah.
Sebagai anak muda yang muda (nah), kita harus baik demi kebaikan kita sendiri (nah) !
OH YEAH, BABY !
.
.
Hari ini adalah hari peringatan "pembaiatan" (bukan pembantaian, jangan salah baca) a.k.a "pengangkatan" angkatan gua di jurusan tercinta.
Kemarin malem kita (walaupun nggak semuanya hadir) udah ngadain semacam syukuran berupa acara games + makan + foto bareng. Cukup asik dan meriah. Cukup menarik.
Hari ini lebih spesial lagi karena kita bikin kesepakatan untuk pake baju "standar pelatihan", yang terdiri dari kemeja polos, celana bahan, dan sepatu pantofel. Ada aja sih yang nggak gitu, jadi menurut gua agak kurang aselole gitu. Tapi yah setidaknya cukup.
.
Tahun lalu, 9 Maret 2014, jam 16.47 (jam ini menurut catatan teman gua), angkatan gua di-baiat.
Dulu itu momennya spesial banget, bahkan gua bikin post tentang ini (monggo di-cek). Sangat berkesan, menarik sekali, dan menggugah emosi dan air mata.
.
Gua jadi keinget masa-masa pas masih jadi mahasiswa baru alias "maba". Pakaian formal. Super malu-malu pas ngobrol, bahkan pas papasan sama senior (sekarang juga masih sih). Rambut masih terkendali. Bener-bener masa-masa adaptasi ke lingkungan perkuliahan yang sejati, yang bisa "membentuk" gua menjadi lebih mahasiswa lagi.
.
Asik. Dulu hampir tiap hari kita seangkatan ngumpul. Bahas macem-macem. Ngobrol. Ngerjain tugas. Tidur-tiduran. Main game. Bengong gak jelas demi menghabiskan waktu.
 .
Ada kalanya bosen juga. Kayaknya senior ngasih tugas melulu. Ada aja tiap hari. Kadang ganggu penyelesaian tugas kuliah.
.
Ada serunya juga. Gua jadi bisa nonton pertandingan olahraga, yang mana saat sekolah belum pernah gua lakukan. Nonton basket, bulutangkis, futsal, voli. Semangatin tim jurusan rame-rame. Nyanyi-nyanyi + koreografi + baju seragam. Suuuupeeeeer !
.
Ada yang menegangkan juga. Konflik dengan temen seangkatan dari jurusan lain. "Nyaris tawuran" pas nonton futsal, pertandingan final pula.
.
Perkuliahan menyajikan sisi-sisi kehidupan yang sebelumnya belum pernah gua cicipi. Gua cuma bisa membayangkan segala blablabla a-i-u-e-o pas SMA, tapi sekarang udah banyak yang gua alami sendiri secara langsung. Menarik sekali.
.
.
.
Dunia itu banyak rasa, dan belum semuanya gua coba.
Semoga dengan peringatan 1 tahun ini, gua jadi lebih ASELOLE JOS lagi !
.
.
.
Sekian buat kali ini.
SELAMAT SIANG SEMUA !!!

Minggu, 08 Maret 2015

Thinking About Friends

YOYOYOYOYOOYO !!!
What's up, dude ?
You good ? So am I !
.
.
Kali ini, gua bakal kembali membahas tentang dunia pertemanan gua.
.
Saat ini, gua mengalami deja vu dalam hal pertemanan.
Di dunia perkuliahan ini, gua mempunyai seorang teman, yang karena kedekatannya dengan gua, bisa dibilang mendekati "bromance" atau lebih populer di kalangan anak muda jaman sekarang sebagai "homo-an" (untuk pencerahan, gua 100% masih suka a.k.a jatuh hati sama seorang cewek yang namanya tak bisa gua sebutkan, sebut saja "si dia") yang salah satu sifatnya sama dengan salah satu sahabat gua zaman kelas 2 SMA.
Dunia memang sempit. Gua berhasil menemukan 2 orang dengan algoritma yang sama pada 1 bidang.
Jadi, mereka berdua bisa dibilang "hebat" dalam hal tidur.
Tidur ?
Mereka "kebo" tidurnya ? Bukan.
Mereka jarang tidur ? Bukan.
Mereka tukang tidur di kelas ? Masih bukan.
Mereka sedang tidur ? NGGAK WOY.
.
Jawaban : Durasi tidur mereka adalah luar biasa !
Sugoi ! Amazing !
.
Temen SMA gua pernah cerita kalau pas lagi puasa, dia selesai sahur langsung tidur lagi dan bangun pas udah deket buka puasa. Terus dia buka puasa, blablabla, dan tidur malam. Ulangi sahur, dst.
Skill tinggi, bung !
Temen kuliah gua ini bisa dikatakan mirip perilaku tidurnya.
Tidur malam sekitar jam 11 sampai 12, kalo besok bebas kegiatan, dia bisa bangun jam 12 bahkan jam 1 siang !
Ultimately sugoi !
.
Gua nggak pernah membayangkan dan merencanakan hal ini.
Tapi kalau dianalisa dari data-data kehidupan gua sampai saat ini, gua memang punya "kesan" tersendiri terhadap tidur.
Nggak pernah seragam. Selalu ada perbedaan bahkan keunikan.
.
Untuk beberapa hal, dunia itu luas.
.
Nah, ganti topik.
Sekarang gua pengen bahas mengenai dunia "kebersamaan" gua.
Paham kan tentang apa ?
.
Seperti biasa, gua kembali kepikiran tentang konsep "pasangan hidup".
.
Pas gua sakit, dengan absennya pikiran mengenai perkuliahan, otak gus mengisi kekosongan dengan melakukan follow-up mengenai "si dia".
Gua merasa pengen banget ada "seseorang" yang menemani proses penyembuhan gua. Dia bakal ngatur waktu tidur gua biar cukup. Dia bakal ngingetin gua tentang pantangan tertentu. Dia bakal secara tepat waktu nyuruh gua minum obat. Dia bakal memberi hiburan bagi gua yang sedang istirahat.
Dia bakal memastikan kesembuhan gua terjaga.
Sedap. Indah banget ya kalau beneran ada.
Mungkin ada yang merasa kalau kata-kata gua terlalu "meminta", manja, atau "mauan banget lu !".
Dunia memang tidak seindah konsep "dunia ideal" masing-masing orang, tapi kalau bisa beneran, mengapa tidak ?
.
Gua bakal sangat senang sekali (hiperbola ekstrem, bung !).
.
Dan "seseorang" yang kepikiran adalah "si dia".
Gua udah lamaaaaaaaa nggak komunikasi sama dia, baik sms, medsos, apalagi telpon. Kalau telepati atau empati (macem insting seorang ibu), entahlah. Kalau bisa, maka menarik sekali !
Kalau gua bayangin lagi kehidupan gua di masa kelas 3 SMA itu, rasanya banyak banget manisnya. Gua bisa liat dia tiap hari di dekat gua. Manis kali lae ! Abang gak kuat untuk tatap mata yang begitu tajam ! Malu kali bah !
Kayaknya nggak ada yang tau kalau gua suka sama cewek yang satu ini (kecuali gua tentunya ! Gua menyukainya secara sadar !). 1 keuntungan : gua nggak "dicengin" alias "dijodoh-jodohin" sama dia, sehingga ya interaksi kita biasa aja, tanpa ada kecanggungan tertentu.
Dibandingkan sama masa kuliah ini, dimana gua belum "kecantol" sama seorang cewek spesifik, masa kelas 3 SMA itu lebih indah.
Beberapa liburan terlewati, tapi gua belum ada kesempatan tatap muka sama "dia". Pengen sih, tapi ya kalau gua ngajak ketemuan dengan tema "berdua aja", gua belum berani. Pada 1 sisi, gua mendambakan konsep "pacaran setelah mapan" ala bapak + ibu gua, di sisi lain gua ada keinginan pacaran saat ini dengan harapan bisa menunjang semangat hidup dan berprestasi gua.
.
.
.
Semoga dengan kebingungan dan ketidakpastian ini, gua bisa melalui perkuliahan ini dengan ASELOLE JOS !!!
Aamiin.
.
.
.
Sekian dulu buat kali ini.
Sampai jumpa di post selanjutnya.
SELAMAT TENGAH MALAM SEMUA !!!

Jumat, 27 Februari 2015

Pre Sleep Revelation

YOYOYOYYOYOYOYOYOO !!!
Apa kabar, para hadirin ?
Berusaha tidur (seperti saya) ?
Ada hal yang mengganjal (seperti saya) ?
Saatnya berbagi kekurangan waktu tidur bersama !
[bukan saran yang baik untuk anak dibawah umur]
.
.
Jadi.
Jadi.
Jadi, gua merasa harus nulis jadi 3 kali.
.
Maaf.
Itu 4 kali.
.
Maaf.
Bukan itu inti dari postingan ini. RALAT !
.
.
Jadi, gua merasa harus segera membagi apa yang ada di pikiran gua saat ini, karena mengapa tidak ? Gua hanya merasa bahwa dunia harus tahu sepenggal hal yang muncul di pikiran gua ini. Otak liar gua telah menemukan sesuatu yang (seperti biasanya) "penting tapi kurang penting" atau "iya juga ya, tapi terus kenapa ?".
.
Gua telah mendapat sebuah pencerahan !
Sebuah ide, gagasan, konsep baru telah muncul di pikiran gua dan sangat menarik sekali sampai-sampai badan gua tersugesti untuk segera membagikannya pada dunia.
I'm so excited, dammit !
.
.
.
Gua telah berpikir, secara tidak sadar, dan menemukan ide ini.
Dammit Brain, you nailed it !
.
Gua bakal cerita dikit, sebagai intro yang menarik.
Kita sedikit kilas balik ke masa SMA gua. Bukan masa SMA lu. Maaf, lagi sensi (saya).
Waktu SMA, gua lebih tertarik ke Biologi dibanding Fisika, dan akhirnya gua kuliah di jurusan yang merupakan bagian dari Fisika. Bukan apa-apa, gua tertarik ke kerjaan yang bakal gua lakukan jika menempuh jalan ini aja [role model : bapak saya]. Gua tetep tertarik ke Biologi, walaupun ya gua tidak bisa menikmati pendidikan Biologi, untuk saat ini.
.
Gua sekarang di jurusan Elektro. Listrik. Setrum. PLN. Solder. Robot. Mati lampu.
Gua terkadang berpikir bagaimana caranya gua bisa menyentuh dunia Biologi tapi tetap di jalan kelistrikan ini.
Gua mencoba mencampuradukkan Biologi-Elektro, salah satu alasan mengapa gua tertarik dengan film sci-fi, sehingga mungkin gua lebih tertarik lagi dengan dunia ini.
Apa yang menjadi irisan dari Biologi dan Elektro ? Gua menemukan satu hal : tubuh manusia juga memiliki sinyal listrik. Tahanan : gua pernah ngukur tahanan badan gua dengan Ohmmeter. Tegangan : apa yang menyebabkan otot bisa menegang a.k.a kontraksi ? tegangan yang cukup, dan periodik, mengakibatkan jantung bisa bekerja terus, sampai saat ini.
Hal itulah yang menyerang otak gua.
.
Sistem saraf adalah sistem yang membawa tegangan listrik untuk seluruh otot. Sistem yang mengendalikan kerja organ, sadar ataupun otonom.
Pernah nggak kalian melakukan percobaan Biologi dimana kaki katak (atau yang lain yang relevan) yang telah dipotong diberi tegangan dari batere ? Kalau belum, sedikit bocoran : kaki katak tsb akan berkontraksi.
Itu dia.
Itulah dasar dari pencerahan gua.
Mungkinkah bahwa selama ini, selama kita hidup ini, kita memang "menggerakkan" anggota-anggota tubuh kita ?
Apa esensi dari "mengangkat tangan" atau "mengepalkan tangan" ?
Apa esensi dari "kontraksi" otot ?
Mungkinkah kesadaran kita untuk "bergerak" sebenarnya hanyalah sebuah ide semata ?
Mungkinkah kita "tidak sadar" bahwa sebenarnya, kita mampu mengendalikan listrik ? Lebih spesifik lagi, di dalam tubuh kita ?
.
Kontraksi otot diakibatkan oleh pemberian tegangan listrik pada otot.
Kita memberi konsep "saya akan menggerakkan jempol kaki saya" dan otak akan mengartikannya dengan menyuruh sistem saraf mengalirkan beberapa milivolt ke otot sendi jempol kaki sehingga jempol kaki bergerak.
Kita bisa dengan semau kita, memberikan beberapa milivolt ke organ yang kita mau (dan mampu menerima konsep gerakan kita) dan menggerakkan organ tersebut. Itukah "gerakan" ?
.
Konsep "gerakan" sudah ada sejak lahir. Manusia harus bertahan hidup, insting itulah yang menuntun kita untuk bisa bergerak, bahkan sejak baru lahir.
Pendidikan dari orangtua membuka konsep-konsep gerakan dengan cepat dan akurat. Kita mampu menangkap banyak konsep dengan cepat karena ada yang mengajari. Tanpa pengajar, sulit untuk menemukan konsep tersebut, kecuali dengan latihan keras dan fokus yang mantap.
Contoh sederhana, seorang dengan kelentukan tubuh terbaik pun akan sulit melakukan moonwalk ala Michael Jackson atau gerakan tarian shuffle jika ia belum pernah melihat dan mencobanya.
Latihan membuka konsep tersebut. Membuka "rangkaian-rangkaian saraf". Membuka "metode-metode" atau "langkah-langkah" biologis untuk menggerakkan otot tertentu sesuai yang kita inginkan.
.
Sedikit diluar topik diatas, tapi mungkin ada yang bertanya, "Tubuh kita memiliki listrik ?"
Jawaban : Yoi.
"Dari mana ?"
Gua tidak mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan teliti, tapi tebakan terbaik gua adalah pencernaan makanan. Pembakaran. Berbagai macam proses kimia terjadi dalam tubuh kita. Bukan tidak mungkin jika "energi" dari ATP yang kita dapatkan dari pembakaran karbohidrat bisa diubah menjadi energi listrik.
Energi ini dimulai dari saat kita masih jadi kandungan, tentunya. Gizi pertama, zat-zat organik pertama berasal dari tubuh ibu yang mengandung kita.
Dan tentu saja, seperti layaknya motor listrik, kita mengalami "starter" pertama kita di dalam rahim ibu kita. Mungkin itu yang dimaksud dengan "bayi ini sudah hidup di dalam rahim", yaitu "listrik pertama telah dibangkitkan di dalam tubuh bayi, dan akan dibangkitkan terus selama ada bahan-bahannya". Jantung berdetak, darah mengalir, zat-zat berguna tersebar ke seluruh tubuh, hidup. Saat bayi bisa mandiri, dimana semua sistemnya bekerja saling membantu dan saling tergantung satu sama lain, bayi pun lahir pada waktu yang tepat.
.
.
.
Fungsi hidup manusia tidak jauh dari listrik.
Fisika, tepatnya Elektro, juga berkaitan dengan Biologi.
Jalan manapun, berapapun jauhnya, berapapun tenaga yang dikeluarkan atau didapat, akan menuju ke titik yang sama, selama "titik" itulah tujuan yang telah dibidik dan dipandang dengan mantap. Mungkin ada yang butuh 1 langkah saja, mungkin ada yang butuh ratusan, ribuan, bahkan jutaan, bukan tidak mungkin miliaran langkah. Mungkin ada yang bisa sambil nyantai, ada yang cukup jalan lurus saja, atau ada yang harus banting tulang di tepi jurang yang berkelok-kelok. Tapi tujuan tetap sama, jadi mengapa tidak kita tetap setia saja di jalan yang sedang kita hadapi ?
.
Sedikit kata-kata liar yang melintas di pikiran gua. Mungkin bisa memotivasi kita semua. Mungkin bisa memotivasi gua sendiri untuk bikin kata-kata mutiara lagi (lahh ???).
.
.
.
Tetap unik, tetap asik, tetap bisa diterima.
Semoga gua bisa menjaga segala sikap dan pemikiran gila gua, demi keberagaman di dunia yang mulai seragam ini.
Sekian dulu buat kali ini. Panjang kali bah postinganku kali ini.
SELAMAT TENGAH MALAM SEMUA !!!